Dosen dan Mahasiswa STIBA Invada Terpilih Program Japan Foundation


Dosen Prodi Sastra Jepang, Yanti Hidayati S.Pd., M.Hum dan mahasiswanya, Alfianne Shofia Wardah terpilih mengikuti program Japanese-Language Education Capacity Building: Southeast Asian Teachers Traning College Course in Japan. Keduanya, berada di Jepang pada 10 Januari – 23 Februari 2019 di Japan Foundation, Osaka, Jepang.

Japan Foundation program

Program ini merupakan program yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation dalam rangka meningkatkan kemampuan pengajar bahasa Jepang di Indonesia dalam hal pengajaran Bahasa Jepang. Khususnya, pengenalan dan pemantapan Japan Foundation Standar Can-do (JFS Can-do) yang merupakan acuan kemampuan berbahasa Jepang yang dititik beratkan pada kemampuan berbahasa aplikatif di lingkungan sehari-hari.

Pada tahun ini, sebanyak 28 universitas yang mendapatkan undangan Japan Foundation untuk mengikuti tes seleksi. Masing-masing perguruan tinggi diperbolehkan mengajukan satu orang dosen dan satu orang mahasiswa untuk mengikuti seleksi berkas. Dari 28 universitas tersebut, terpilih 25 orang, terdiri dari 13 dosen dan 12 mahasiswa.

”Untuk STIBA Invada ini undangan yang kedua. Sebelumnya ibu Citra Dewi yang berangkat. Tahun ini alhamdulillah ada dosen dan mahasiswanya juga ada yang lolos,” ujar Yanti Hidayati S.P., M.Hum.

Kegiatan dalam program ini meliputi program pengenalan dan pemantapan metode pengajaran Bahasa Jepang berdasarkan pada JFS can-do; kegiatan tukar budaya dan interview dengan mahasiswa Jepang dan masyarakat Jepang; kunjungan ke SD, SMP dan Perguruan Tinggi; Program Home Visit; Pengenalan budaya (ikebana, shodo, wadaiko) dan Program Field Work ke Osaka, Kyoto, dan Nara.

Melalui program tersebut Japan Foundation berharap dapat meningkatkan kemampuan mengajar Bahasa Jepang di Indonesia. Selain mengenal metode baru yang diajarkan, tujuan utamanya pengenalan, pemantapan, dan pemerataan kemampuan pengajar Bahasa Jepang.

”Persiapannya sudah sejak Agustus 2018 proses pendaftaran. Setelah itu seleksi membuat esai, dan tes kesehatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yanti menambahkan kembali terpilihnya STIBA Invada membuktikan bahwa STIBA Invada profesional dibidangnya. Di sisi lain, menjadi motivasi untuk terus memberikan pengajaran yang menarik dan inovatif. ”Setelah memotivasi untuk meningkatkan kemampuan. Feedback ke mahasiswa juga sudah dua dosen yang mengenal metode Can-Do, bisa diaplikasikan dalam perkuliahan,” tuturnya.

Mahasiswa yang terpilih, oleh pihak kampus juga dilakukan seleksi internal terlebih dahulu. Dari tiga mahasiswa yang berminat, dua orang mahasiswa lolos tes wawancara, hingga terpilih Ane. Tes yang diberikan adalah membuat esai berkaitan dengan pendidikan pengajaran Bahasa Jepang.

”Bagaimana cara mengajar di era milenal yang semua serba mudah, apakah guru masih dibutuhkan atau tidak. Proses membuat esainya tidak terlalu, karena saya banyak membaca dari berbagai sumber juga,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *