Mahasiswa Berpotensi Jadi Pemandu Wisata Berbahasa Asing

09-08-18 stiba 0 comment

Industri pariwisata di Cirebon tengah berkembang. Wisatawan yang datang tidak hanya dari dalam negeri. Wisatawan asing juga melirik kekayaan budaya Cirebon. Ditambah lagi akses ke Cirebon saat in sangatlah mudah dijangkau dengan berbagai fasilitas transportasi mulai dari adanya Jalan Tol, Kereta api dan juga bandara Internasional Bijb. Untuk itu, Program Studi Sastra Inggris STIBA Invada Cirebon bekerjasama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengadakan Seminar mengenai pengembangan sektor pariwisata.

Bertajuk seminar Pengembangan Sektor Pariwisata Daerah Ciayumajakuning di Era Digital, seminar tersebut merupakan implementasi dari mata kuliah tourism. Pada seminar yang diadakan Kamis, 19 Juli 2018 tersebut mahasiswa mendapatkan informasi dari pelaku pariwisata mengenai cara-cara yang dapat dilakukan ketika menjadi guide. Begitupula mengenai peluang kebutuhan guide berbahasa asing yang masih minim di Cirebon dan sekitarnya.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Hadi Mulyana mengungkapkan, di tengah pesatnya perkembangan wisata di Ciayumajakuning, jumlah SDM yang khususnya di tur guide yang mampu berbahasa asing masih terbatas. Saat ini, baru ada tiga orang. Padahal wisatawan asing yang datang banyak dan biasanya berasal dari Jepang, Belanda, Australia, Eropa, dan lainnya.

”Ini kesempatan bagus bagi kami untuk kerjasama dengan STIBA Invada untuk menyiapkan SDM yang kompeten di bidangnya sesuai dengan kompetensinya yaitu bahasa asing,” ujarnya. Menurutnya, dengan kemampuan bahasa asing yang dimiliki menjadi modal utama. Kemudian, mahasiswa diberikan pelatihan agar dapat mampu terjun langsung ke lapangan sebagai tur guide. Ke depan HPI berharap guide yang ada di Ciayumajakuning mampu berbahasa asing, minimal Bahasa Inggris.

”Kami akan didik dan memberikan pengetahuan agar mereka mampu bersaing dengan guide dari luar kota,” Sementara itu, Ketua Program Studi Sastra Inggris STIBA Invada Karin Sari Saputra, SPd M.hum menjelaskan, seminar tersebut merupakan  impelementasi dari mata kuliah tourism. Tujuannya adalah  untuk mempertemukan mahasiswa dengan ekspert yang dapat menjelaskan  dunia pariwisata secara langsung. Dengan begitu, wawasan yang dimiliki tidak hanya dimanfaatkan di ruang kelas, tetapi dari skill mereka yang didapat didalam kelas tersebut mereka bisa lebih melakukan sesuatu untuk daerah Cirebon dan sekitarnya.

”Tujuannya saya ingin melihat pemahamanan mereka tentang pariwisata, mempraktekkan materi di dalam kelas dengan narasumber dari prakstisi,” ujarnya. Saat ini, STIBA Invada dan HPI tengah menyusun draft kerjasama dengan rencananya ditembuskan dengan pemerintah kota dan kabupaten Cirebon. Salah satu poin diantaranya adalah untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkompeten. Khususnya, guide berbahasa asing. ”Seminar ini dikuti oleh sekitar 30 mahasiswa dari semester 2, 4 dan 6. Sementara untuk mata kuliah toursm sendiri ada di semester 4,” tegasnya.

Selain hadir Ketua HPI, hadir pula CEO dari MEF (Majalengka English Forum), Imam Abdul Muttaqin, S.S yang merupakan alumnus STIBA INVADA Cirebon. Semenjak Lulus dari STIBA, Imam mempelopori gerakan pemuda majalengka dalam mempersiapkan masyarakat Majalengka agar dapat bersaing . Imam Mendirikan MEF dengan tujuan agar masyarakat majalengka dari semua profesi dan kalangan dapat menguasai Bahasa Inggris sehingga dapat mendukung industri Pariwisata di lingkungan sekitar bandara Internasional Bijb.

STIBA Invada sendiri sebagai Sekolah Tinggi Bahasa Asing yang berbasis Ilmu Komputer dalam mendukung Pariwisata Cirebon mempersiapkan mahasiswanya bukan saja dalam bahasa Asingnya tetapi juga Komputernya sehingga dapat menciptakan Industri Pariwisata berbasis digital.



Leave a reply