Mahasiswa STIBA INVADA Ikut Program Rainbow Exchange di Jepang

21-05-18 stiba 0 comment

Rainbow Exchange merupakan program Summer Camp di kaki Gunung Fuji kerjasama antara STIBA invada dengan Ashinaga Ikueikai, yaitu lembaga yang memberikan dukungan dan pendidikan yang komprehensif kepada para siswa yatim piatu.

Ranu – Jerry – Yanti Sensei (Kaprodi Sastra Jepang)

Program tersebut bertujuan agar para mahasiswa tersebut dapat menjadi warganegara yang penuh kasih di dunia yang memiliki tekad dan kemampuan untuk berkontribusi bagi perbaikan umat manusia. Selama mengikuti program tersebut, Ranu Septian Santoso dan Jerry Jay Pahlawan akan bergabung dengan 150 mahasiswa lain berbagai negara lainnya.

Terdapat banyak program yang akan dipelajari. Diantaranya, intercultural awarness, kebutuhan memahami budaya asing dan mempelajari kepekaan terhadap perbedaan budaya. Intercultural Learning atau usaha membangun hubungan antar budaya yang berkontribusi pada pengembangan masyarakat internasional. Intercultural skill atau memberikan pelatihan dan pendidikan bahasa asing, khususnya untuk pengembangan komunikasi internasional.

Ketua Prodi Sastra Jepang STIBA Invada Yanti Hidayati S.Pd., M.Hum menjelaskan, program tersebut ditujukan khusus bagi mahasiswa yang yatim, piatu atau yatim piatu dan berstatus mahasiswa STIBA Invada prodi Sastra Jepang sampai musim panas 2018. Selama program berlangsung, Ashinaga akan memfasilitasi tiket pesawat pulang pergi, biaya akomodasi selama di Jepang, makan, penginapan, dan transportasi.

”Nanti mereka bertemu dengan 150 mahasiswa dari Jepang dan negara lainnya saling berbagi, memberikan motivasi mengenai leadership, gimana mereka setelah kehilangan, jangan sampai mereka terpuruk, mengembalikan semangat mereka, men-support untuk mereka mencapai mimpi, harus meraih cita-cita,” ujarnya.

Selain program tersebut, setelah kunjungan pengajar STIBA Invada beberapa waktu lalu ke Osaka, ke depan ada program dari Ashinaga untuk belajar selama satu tahun di Jepang. ”Ini juga sama untuk mereka yang kehilangan ibu atau bapak atau dua-duanya. Ke depan mudah-mudahan bisa dipercaya program lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ranu mengungkapkan bisa ikut serta dalam program tersebut merupakan kesempatan yang langka. Terlebih sebagai mahasiswa yang belajar bahasa Jepang, hal tersebut merupakan kesempatan emas. ”Paling utama punya teman dari berbagi negara itu kan kesempatan yang besar. Saat ini persiapannya sudah bikin paspor sekarang juga lagi belajar lagi untuk memperkuat bahasa Jepang juga,” ungkapnya.

Jerry menambahkan, darmawisata di Tokyo sekaligus summer camp di Gunung Fuji merupakan kesempatan yang sangat langka. ”Harapannya dengan mengikuti program tersebut bisa meningkatkan kemampuan bahasa bisa berinteraksi dengan orang Jepang dan seluruh dunia yang juga ikut program tersebut,” katanya



Tinggalkan Balasan