Mahasiswa STIBA Invada mengikuti kegiatan summer camp di Jepang

Ranu Septian Santoso dan Jerry Jay Pahlawan, mahasiswa STIBA Invada bersama 150 mahasiswa dari berbagai negara lain telah mengikuti program Rainbow Exchange berupa summer camp di kaki Gunung Fuji, Jepang. Program tersebut merupakan kerjasama STIBA Invada dengan Ashinaga Ikueikai yaitu lembaga yang memberikan dukungan dan pendidikan yang komprehensif kepada para siswa yatim piatu sehingga dapat menjadi warganegara yang penuh kasih di dunia yang memiliki tekad dan kemampuan untuk berkontribusi bagi perbaikan umat manusia yang berpusat di Tokyo, Jepang.

Kesempatan yang didapatkan Ranu Septian Santoso dan Jerry Jay Pahlawan terbilang langka karena di Indonesia hanya 2 universitas yang mendapatkan kesempatan mengikuti program tersebut. Mereka berada di Jepang selama kurang lebih 2 minggu mulai tanggal 20 Agustus sampai dengan 10 September 2018 lalu. kegiatan Rainbow Exchange sendiri dikhususkan bagi mahasiswa orphan dan orphaned diseluruh dunia.

Ada tiga kegiatan utama yang dilakukan, yaitu :

  • Kansai Program yaitu program yang dilaksanakan di sekitar Kansai. Peserta tinggal di asrama Ashinaga dan Berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. ”Kami rekreasi di sekitar Kansai, lebih ke darmawisata sekaligus mengenal kehidupan mahasiswa di asrama Ashinaga. Interaksi dengan mahasiswa asing, bukan hanya dari Jepang,” ujar Jerry.
  • Saiko no Tsudoi, merupakan program utama dari kegiatan Rainbow Exchange. Dalam kegiatan tersebut mereka diajarkan mengenai leadership. Salah satu program yang berkesan pada Saiko no Tsudoi adalah My Journey Map. Para peserta diminta membuat peta hidup yang kemudian sharing dengan peserta lainnya. Saling berbagi pengalaman. Apa yang dialami sebagai orphan dan orphaned, kesulitan yang dihadapi dalam hidup, kemudian saling  memberikan semangat dan masukan.
  • Tokyo Kankou adalah program darmawisata berkeliling Tokyo. Disana peserta Melihat langsung perbedaan kehidupan antara Kansai dan Tokyo yang cenderung lebih at.

Jerry merasa sangat bangga dapat lolos seleksi dan dapat mengikuti program tersebut meskipun awalnya tidak percaya diri dengan emampuan bahasa yang dia mimliki. ”Awalnya  sempat ragu dengan kemampuan bahasa saya. Ternyata selama saling memahami bisa, semakin terasah juga kemampuan bahasanya,” tambah Jerry yang memiliki teman akrab dari Jepang selama program tersebut berlangsung.

Sementara menurut Ranu, dia sangat berkesan sekali karena dapat memiliki teman diseluruh belahan dunia.

”Ada poin pentingnya dilarang menghujat, merendahkan, jadi sama-sama berkembang. Sharing sesama peserta summer camp,” ungkap Ranu yang memiliki teman akrab dari Uganda.

Selain 3 kegiatan tersebut, mereka juga mengikuti kegiatan Camp Fire. Para peserta berkumpul di satu ruangan. Peserta duduk di sekeliling lilin yang membentuk pohon. Para senior dari Ashinaga berbagi mengenai pengalaman hidup yang tersulit. Hal itu, bertujuan untuk memotivasi para peserta untuk bangkit mencapai impian, meski terdapat kendala dalam hidup.

”Mereka dengan segala kesulitan yang tidak saya alami, mereka bisa berjuang. Itu memotivasi kami untuk menjalani hidup yang lebih baik. Bukan berarti menghapus masa lalu tetapi memperbaiki masa lalu di masa depan, jangan pernah berhenti untuk berjuang,” papar Ranu.

Jerry menambahkan, kegiatan Rainbow Exchange juga membuat orangtuanya bangga. ”Bangga sekali, awalnya orangtua agak ragu saya ambil jurusan Sastra Jepang. Dengan bisa mengikuti program ini sekarang tambah mendukung,” (Int)

Baca juga STIBA INVADA – ASHINAGA Ikuekai Jalin Kerjasama, Rainbow Exchange Jepang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *